Prosedur Penelitian Ekstraksi dan Fraksinasi Flavonoid
Ekstraksi senyawa flavonoid yang
terdapat dalam tumbuhan dengan sampel daun sirih merah ( Piper crocatum Ruiz
& Pav) yang telah dihaluskan sebanyak 250 gram dimaserasi yaitu direndam
dengan menggunakan pelarut metanol 10 x 1000 mL dan disimpan ditempat yang
terlindung cahaya matahari sambil sekali – kali dikocok (Shaker). Maserasi
dilakukan berulang kali sampai diperoleh larutan yang bening yang menandakan
hasil yang negatif terhadap flavonoid. Hasil maserasi disaring dan dipekatkan
dengan rotary evaporator . Ekstrak yang diperoleh disebut sebagai ekstrak pekat
metanol. Kemudian dilakukan proses fraksinasi terhadap ekstrak pekat metanol
tersebut berdasarkan pada perbedaan kepolaran pelarut organik. Fraksinasi untuk
masing – masing fraksi dilakukan berulang kali, sampai warna pelarut pada
fraksi yang diinginkan bening. Caranya adalah sebagai berikut; ekstrak kasar
(ekstrak pekat metanol) dilarutkan dalam pelarut metanol – air (6 : 4),
kemudian fraksinasi dengan pelarut n- heksana dengan perbandingan 1 : 1(v/v).
Fraksinasi dilakukan dengan corong pisah, sehingga diperoleh 2 fraksi, yaitu
fraksi n– heksana dan fraksi metanol - air. Kemudian dilanjutkan dengan
fraksinasi antara fraksi metanol – air dengan pelarut etil asetat dengan perbandingan
1 : 1. Sehingga dihasilkan 3 fraksi, yaitu fraksi metanol – air, fraksi etil asetat
dan fraksi n– heksana. Pada fraksi etil asetat dilakukan uji fitokimia untuk
mengetahui ada tidaknya senyawa flavonoid, kemudian fraksi etil asetat ini
dipekatkan dengan rotary evaporator.
Pemisahan dan Pemurnian Flavonoid
Dari hasil uji fitokimia yang
dilakukan, dapat diketahui pada fraksi etil asetat mengandung senyawa
flavonoid. Kemudian fraksi etil asetat dilakukan uji KLT untuk mencari
komposisi eluen yang baik dengan cara melihat hasil pemisahan noda yang ada. Komposisi
dari eluen yang digunakan, dan penampak noda yang digunakan adalah uap iodin.
Penampak noda iodin merupakan pereaksi lokasi umum untuk senyawa organik, untuk
senyawa tak jenuh akan memberikan noda – noda yang tak berwarna, tetapi banyak senyawa
organik yang jenuh akan menimbulkan noda – noda berwarna coklat. Semua warna
ini akan cepat hilang dibiarkan diatmosfer (Sastrohamidjojo, 2001). Dimana komposisi
eluen tersebut akan digunakan sebagai fase gerak pada proses selanjutnya, yaitu
n-heksan 100 %, n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 90:10; 80:20; 70:30;
60:40; 1;1; 40:60; 30:70; 20:80; 10:90 dan etil aetat 100% pada kromatografi kolom.
Fraksi etil asetat lalu dikromatografi kolom dengan
fase gerak n- heksana : etil
asetat (20:80) dan fase diam silika gel 60 (35 – 70
mesh). Silika gel disuspensikan lebih dahulu dengan n– heksana : etil asetat
(20:80) dimasukkan ke dalam kolom yang dasarnya telah diberi kapas. Kemudian
didiamkan selama satu malam. Ekstrak dari fraksi etil asetat dilarutkan dengan
sedikit etil asetat, yang kemudian disebut preadsorbsi. Hasil preadsorbsi
dimasukkan ke dalam kolom, dielusi dengan n– heksana dan etil asetat (20:80)
secara bertahap (Hostettmann, 1995).
Hasil dari kromatografi kolom yang telah didapatkan
ditampung didalam vial
masing – masing 10 mL, selanjutnya diamati dengan KLT
dengan eluen n – heksana : etil asetat (20:80) dan penampak noda digunakan asam
sitroborat dan diamati dengan lampu UV l = 365 nm (Pramono, 1989). Dengan
adanya fraksi yang memberikan noda dengan harga Rf yang sama dapat digabungkan.
Fraksi gabungan diangin – anginkan selama seminggu agar pekat dan mudah terdeteksi
pada saat KLT. Fraksi yang positif mengandung senyawa flavonoid dan memberikan
noda tunggal pada kromatogram, dimurnikan melalui rekristalisasi. Hasil rekristalisasi
diamati dengan KLT menggunakan berbagai eluen. Pelarut dari kristal yang telah
diperoleh dipisahkan dan kristal disimpan dalam desikator.
Identifikasi Senyawa Flavonoid
Senyawa flavonoid yang diperoleh
dikarakterisasi dengan titik leleh, Spektroskopi UV – Vis dan IR. Penentuan
titik leleh, Spektroskopi FT – IR dan spektroskopi UV – Vis dari senyawa isolat
dikirim ke Laboratorium Kimia Organik UGM Yogyakarta. Titik leleh dari kristal
dapat ditentukan dengan pemanasan kristal. Kristal ditempatkan pada alat yang
telah tersedia kemudian suhu dari kristal disaat mulai meleleh diamati sampai
suhu dimana semua kristal telah habis meleleh. Spektrum senyawa isolat untuk UV
– Vis ditentukan dalam larutan etil asetat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Ekstraksi daun tumbuhan sirih merah
(Piper crocatum Ruiz & Pav) dilakukan dengan cara maserasi 250 gram serbuk
daun tumbuhan sirih merah kering menggunakan pelarut metanol, sehingga
diperoleh ekstrak kasar metanol. Ekstrak kasar metanol difraksinasi menggunakan
pelarut metanol – air, etil asetat, n-heksana. Kemudian dihasilkan tiga fraksi,
yaitu fraksi metanol – air, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksana. Setelah
itu dilakukan penentuan perbandingan eluen untuk kromatografi kolom dengan uji
KLT dan didapatkan pemisahan terbaik pada perbandingan eluen (20 : 80) n-heksana
dan etil asetat. Sebanyak 2 gram ekstrak dari daun tumbuhan sirih merah (Piper crocatum
Ruiz & Pav) dari fraksi etil asetat di kromatografi kolom dengan metode Isokratik dan diperoleh 155 vial. Vial – vial tersebut masing –
masing dimonitoring dengan KLT menggunakan eluen n- heksana : etil asetat (20 :
80) dan diamati dibawah lampu UV, = 365 nm setelah diberi penampak
noda asam sitroborat. Vial – vial yang memiliki Rf yang sama digabungkan ke
dalam satu fraksi sehingga diperoleh 13 fraksi. Fraksi 4 memberikan satu
flurosensi warna orange setelah diberi penampak noda asam sitroborat yang
menunjukkan adanya senyawa flavonoid dan memiliki hasil sebesar 0,02 gram.
Setelah dimurnikan diperoleh kristal senyawa isolat berwarna hijau sebesar 0,01
gram. Pada uji KLT senyawa isolat memiliki nilai Rf 0,24 dengan eluen n-heksana
: etil asetat (20 : 80) sedangkan nilai Rf pada metanol 0,35 dan Rf pada etil
asetat 0,30. Titik leleh senyawa flavonoid hasil isolasi adalah 150 – 1560 C.
Hasil spektrum UV – Vis kristal
senyawa hasil isolasi memberikan serapan pada panjang gelombang 269 nm dan 418
nm. Sedangkan hasil spektrum inframerah memberikan serapan pada angka gelombang
(cm-1 ) : 740,67; 802,39; 933,55; 972,12; 1033,85; 1118,71;
1165,00; 1265,30; 1373,32; 1458,18; 1512,19; 1604,77; 1728,22; 2723,49;
2854,65; 2924,09; 3070,68; 3387,00.
Ekstraksi dan Fraksinasi Senyawa Flavonoid
Serbuk daun sirih merah kering
sebanyak ± 250 gram diekstraksi dengan cara maserasi. Cara ini merupakan metode
yang mudah digunakan untuk menarik komponen – komponen yang terkandung dalam
sampel dengan menggunakan alat yang sederhana, cukup meredam sampel dengan pelarut.
Perendaman sampel tumbuhan akan mengakibatkan pemecahan dinding dan membran sel
akibat perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel sehingga metabolit
sekunder yang berada di dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik
dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur perendaman yang
dilakukan (Darwis, 2000). Sampel dimaserasi dengan pelarut metanol sebanyak 10
L pada suhu ruang selama 3x24 jam sambil sesekali dikocok dengan shakerbath.
Metanol digunakan sebagai pelarut awal karena metanol memiliki struktur molekul
yang kecil sehingga mampu menembus semua jaringan tumbuhan untuk menarik
senyawa aktif keluar. Metanol dapat melarutkan hampir semua senyawa organik, baik
polar maupun non-polar, metanol mudah menguap sehingga mudah dipisahkan dari ekstrak
(Waji RA, 2009). filtrat yang diperoleh diuapkan pelarutnya dengan cara vakum menggunakan
rotavapor pada suhu 400 C sampai semua metanol menguap
sehingga diperoleh ekstrak kasar metanol berwarna coklat tua sebanyak 44,9409
gram. Evaporasi dilakukan pada suhu 35 – 40oC untuk
menghindari kerusakan senyawa metabolit sekunder karena beberapa senyawa
metabolit sekunder mudah rusak pada suhu tinggi (Robinson, 1995).
Ekstrak kasar metanol kemudian
difraksinasi bertahap dengan tujuan menyederhanakan senyawa metabolit sekunder
yang terekstraksi. Fraksinasi dilakukan berdasarkan kepolarannya. Semua bahan
yang diinginkan akan larut dalam satu pelarut, dan semua bahan yang tidak
diinginkan akan larut dalam pelarut yang lain (Underwood, 1981). Flavonoid
merupakan senyawa polar (Markham, 1988).
Fraksinasi ini menggunakan pelarut metanol-air, n-heksana
dan etil asetat secara
berturut – turut (partisi cair – cair). Ekstrak kasar
metanol yang diperoleh dilarutkan kembali dengan metanol-air dengan perbandingan
6 : 4 (Lopes, 2004). Ekstrak difraksinasi dengan n -heksana terlebih dahulu
untuk menarik semua senyawa metabolit sekunder yang bersifat non-polar.
Fraksinasi dengan
n-heksana dilakukan hingga larutan hasil fraksinasi
dengan n -heksana sudah tidak berwarna lagi. Fraksinasi yang berulang – ulang
bertujuan agar senyawa metabolit sekunder benar – benar terpisah. Kemudian fraksinasi
dengan cara yang sama dilanjutkan dengan etil asetat untuk menarik semua senyawa
metabolit sekunder yang bersifat semipolar. Dari hasil fraksinasi diperoleh
tiga
fraksi yaitu fraksi n -heksana, fraksi etil asetat dan
fraksi metanol – air. Tiap
– tiap fraksi diuji fitokimia untuk mengetahui ada tidaknya senyawa
flavonoid. Uji senyawa flavonoid dilakukan dengan cara
menambahkan sedikit serbuk Mg dan 3 tetes HCl pekat dan uji senyawa flavonoid
dinyatakan positif jika reaksi yang terjadi menghasilkan warna merah, kuning
atau jingga (Harbone, 1987).
Dari uji fitokimia, ekstrak etil asetat positif
mengandung flavonoid karena pada penambahan pereaksi warna tersebut terjadi
perubahan yang khas untuk flavonoid. Perubahan warna yang terjadi diduga
ekstrak etil asetat mengandung senyawa flavonoid golongan auron. Fraksi etil
asetat yang diperoleh diuapkan pelarutnya secara vakum menggunakan rotavapor
pada suhu 40o C sampai seluruh pelarut teruapkan.
Dari hasil rotarvapor diperoleh ekstrak sebesar 4,07 gram pada fraksi etil
asetat. Terhadap ekstrak etil asetat ini selanjutnya dilakukan uji pemisahan
dan pemurnian. Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Flavonoid Pada fraksi etil
asetat yang positif flavonoid ini dilakukan kromatografi lapis tipis (KLT)
untuk mencari fase gerak yang memberikan pemisahan terbaik. Setelah memperoleh
fase gerak yang terbaik dilakukan kromatografi kolom untuk memisahkan komponen
– komponen yang ada pada fraksi etil asetat. Dari berbagai fase gerak yang digunakan,
fase gerak n -heksana : etil asetat (20 : 80) yang memberikan pemisahan terbaik,
dengan memberikan 5 buah noda setelah diuapi iodin sebagai penampak noda. Sehingga
fase gerak ini yang digunakan dalam kromatografi kolom.
Dari data hasil KLT, fraksi etil asetat dikromatografi
kolom untuk memisahkan
beberapa senyawa yang ada di dalam fraksi etil asetat
menjadi senyawa yang murni. Metode yang dipilih pada kromatografi kolom adalah
metode
Isokratik yang didasarkan pada uji pendahuluan dalam
pemilihan eluen yang baik dalam pemisahan senyawa – senyawa metabolit sekunder.
Eluen tersebut kemudian digunakan dalam proses isolasi. Terhadap 2 gram fraksi
etil asetat dilakukan proses pemisahan dengan menggunakan fase diam silika gel
60 (35 – 70 mesh) 100 gram (panjang kolom 45 cm, diameter 3 cm), menggunakan
fase gerak n -heksana : etil asetat (20 : 80). Silika gel disuspensikan lebih
dahulu dengan eluen (20 : 80) n- heksana : etil asetat lalu dimasukkan ke dalam
kolom yang dasarnya telah diberi kapas dan didiamkan semalam untuk memadatkan
kolom (Ratnasari, 2008). Setelah itu 2 gram fraksi etil asetat dilarutkan dengan sedikit etil asetat dan dimasukkan ke dalam
kolom. Kemudian dielusi dengan menggunakan metode Isokratik. Hasil kromatografi
kolom adalah 155 vial (tiap fraksi ±10 mL). Vial – vial yang diperoleh diangin
– anginkan selama seminggu agar pekat dan mudah terdeteksi pada waktu KLT. Selanjutnya
155 vial diuji dengan KLT untuk penggabungan menggunakan eluen n -heksana :
etil asetat (20 : 80) dan penampak noda asam sitroborat lalu diamati dengan
lampu UV l= 365 nm. Penampak noda asam
sitroborat dengan senyawa flavonoid diduga dapat membentuk ikatan pada
kedudukan yang lain dengan campuran asam borat dan asam sitrat pada pemanasan.
Sampai saat ini mekanisme yang terjadi pada flavonoid dan asam sitroborat belum
diketahui pasti. Sedangkan flourosensi yang terbentuk adalah flourosensi kuning
– kuning kehijauan atau orange dibawah lampu UV l = 365 nm (Pramono, 1989).
Vial – vial yang memiliki Rf sama digabungkan ke dalam
satu fraksi gabungan.
Setelah semua diuji KLT dilakukan diperoleh 13 fraksi
gabungan seperti yang
ditunjukkan pada tabel 1. Masing –
masing fraksi gabungan diuji kembali dengan KLT dengan eluen n-heksana : etil
asetat (20 : 80) dan penampak noda yang digunakan asam sitroborat lalu diamati
dibawah lampu UV l= 365 nm.
Fraksi 4 memberikan satu noda yang memiliki fluorosensi warna kuning sebelum
disemprot penampak asam sitroborat dan warna orange sesudah disemprot asam
sitroborat. Fraksi ini memiliki hasil sebesar 0,02 gram. Fraksi 4 berupa
kristal berwarna hijau. Tabel 1. Fraksi gabungan hasil kromatografi kolom yang
telah di uji KLT
KESIMPULAN
Senyawa flavonoid yang bersumber dari daun tumbuhan sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) pada fraksi etil asetat dapat diisolasi dengan cara diekstraksi melalui maserasi, fraksinasi, kromatografi dan rekristalisasi. Sehingga diperoleh kristal berwarna hijau dengan titik leleh senyawa isolat 150 – 156 C dan nilai Rf yaitu 0,24 pada eluen n-heksana : etil asetat (20 : 80). Sedangkan Rf pada berbagai pelarut pada metanol 0,35 dan etil asetat 0,30. Pada daun tumbuhan sirih merah ( Piper crocatum Ruiz & Pav)
diduga terdapat golongan senyawa flavonoid auron.PERMASALAHAN:
dengan fraksinasi antara fraksi metanol – air dengan pelarut etil asetat dengan perbandingan 1 : 1. Sehingga dihasilkan 3 fraksi, yaitu fraksi metanol – air, fraksi etil asetat dan fraksi n– heksana.
sementara fraksi yang digunakan adalah fraksi etil asetat.
- mengapa yang digunakan adalah fraksi etil asetat,?
- bagaimana dengan fraksi lainny? apakah perlu atau tidak dilakukan pemekatan dan identifikasi. jika ya, apakah kemungkinan dihasilkan hasil yang sama?
- mengapa digunakan perbandingan tersebut.? bagaimana jika digunakan perbandingan sebaliknya.
menurut saya , mengapa yang digunakan adalah fraksi etil asetat karena pemilihan pelarut dengan kepolaran meningkat. Dalam kasus ini etil asetat memiliki kepolaran yan g lebih tinggi dibandingkan metanol sehingga yang digunakan adalaah pelarut etil asetat.
BalasHapusdemikian yang dapat saya jelaskan
terima kasih
pada saat fraksinasi Apakah dengan pelarut yg bersifat semi polar dapat menarik flavonoid yg bersifat polar dalam jumlah yg maksimal?
Hapussaya akan mencoba menjawab permasalahan sdri.ice yang permasalahan 1. kenapa kita menggunakan fraksi etil asetat, sy setuju dengan sdri.putri, karena etil asetat memiliki kepolaran yan g lebih tinggi dibandingkan metanol sehingga yang digunakan adalaah pelarut etil asetat.dan yang kedua mengapa menggunakan perbandingan tersebut, untuk menguji pengentalan ekstrak sehingga mempermudah kita dalam proses identifikasi isolasi senyawa flavonoid. dan perbandingan antara hekasana : etil asetat 20 :80, karena N-heksana bersifat non polar dan etil asetat bersifat polar. sehingga perbandingannya 20 : 80, krn spt yang kita ketahui juga Flavonoid merupakan senyawa polar yang dapat larut dalam pelarut polar. sehingga perbandingan pada etil asetat lebih besar daripada heksana. smoga dpt membantu. tq
BalasHapuspada saat fraksinasi Apakah dengan pelarut yg bersifat semi polar dapat menarik flavonoid yg bersifat polar dalam jumlah yg maksimal?
Hapuspada saat fraksinasi Apakah dengan pelarut yg bersifat semi polar dapat menarik flavonoid yg bersifat polar dalam jumlah yg maksimal?
BalasHapus