Senin, 18 November 2013

BIOAKTIVITAS ALKALOID


Sumber Kafein
Kafein ialah senyawa kimia yang dijumpai secara alami di didalam makanan contohnya biji kopi, teh, biji kelapa, buah kola (cola nitide) guarana, dan mate. Teh adalah sumber kafein yang lain, dan mengandung setengah dari kafein yang dikandung kopi. Beberapa tipe teh yaitu teh hitam mengandung lebih banyak kafein dibandingkan jenis teh yang lain. Teh mengandung sedikit jumlah teobromine dan sedikit lebih tinggi theophyline dari kopi.
Kafein juga merupakan bahan yang dipakai untuk ramuan minuman non alkohol seperti cola, yang semula dibuat dari kacang kola. Soft drinks khususnya terdiri dari 10-50 miligram kafein. Coklat terbuat dari kokoa mengandung sedikit kafein seperti terlihat pada tabel 2.1. Efek stimulan yang lemah dari coklat dapat merupakan kombinasi dari theobromine dan theophyline sebagai kafein (Casal etal.2000).

Kafein dalam Tubuh
Kafein memiliki efek yang beragam pada setiap individu. Beberapa individu akan merasakan efek secara langsung, sedangkan yang lain tidak merasakan efek sama sekali. Hal ini terkait dengan sifat genetika yang dimiliki oleh masing-masing individu terkait kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein. Individu yang memiliki tipe enzim isozim tipe tertentu mampu memetabolisme kafein secara cepat dan efektif sehingga kafein dapat segera dirasakan manfaatnya. Tidak demikian pada individu dengan enzim isozim tipe lainnya, laju metabolisme kafein cenderung lambat sehingga efek dari kafein yang dikonsumsi tidak dirasakan atau cenderung berefek negatif.
Kafein yang sudah mengalami metabolisme akan menghasilkan tiga metabolit dimetilxantin, yaitu:
1. Paraxanthine (84%) : meningkatkan lipolisis, sehingga kadar gliserol dan asam lemak dalam plasma darah bertambah. Inilah yang menyebabkan energi tubuh seseorang meningkat setelah minum kafein.
2. Theobromine (12%) : meningkatkan dilatasi pembuluh darah (aliran darah semakin cepat) dan meningkatkan volume urine (efek diuretik).
3. Teofilin (4%) : melemaskan otot-otot polos dari bronki.

Ketiga metabolit tersebut selanjutnya dimetabolisme dan kemudian dikeluarkan tubuh melalui urin. Meskipun demikian, kemampuan tubuh untuk mengeluarkan hasil metabolit (waktu paruh) tersebut bervariasi pada setiap individu, tergantung usia, fungsi hati, kehamilan, konsumsi obat, dan konsentrasi enzim dalam hati. Pada orang dewasa sehat, waktu paruh kafein sekitar 4,9 jam. Pada wanita hamil, waktu paruhnya meningkat menjadi 9-11 jam. Pada wanita yang mengonsumsi pil KB waktu paruhnya adalah 5-10 jam. Pada bayi dan remaja waktu paruh lebih lama dibanding orang dewasa, pada bayi yang baru lahir mencapai 30 jam. Kafein dapat berakumulasi pada individu dengan kerusakan hati yang berat, waktu paruhnya meningkat hingga 96 jam.

Efek jangka Pendek Kafein
Mencapai jaringan dalam waktu 5 (lima) menit dan tahap puncak mencapai darah dalam waktu 50 menit, frekuensi pernafasan ; urin, asam lemak dalam darah ; asam lambung bertambah disertai peningkatan tekanan darah. Kafein juga dapat merangsang otak (7,5-150 mg) dapat meningkatkan aktifitas neural dalam otak serta mengurangi keletihan), dan dapat memperlambat waktu tidur (Drug Facts Comparisons, 2001)

Efek Jangka panjang Kafein
Pemakaian lebih dari 650mg dapat menyebabkan insomnia kronik, gelisah, dan ulkus. Efek lain dapat meningkatkan denyut jantung dan berisiko terhadap penumpukan kolesterol, menyebabkan kecacatan pada anak yang dilahirkan (Hoeger, Turner, and Hafen, 2002).

Efek Konsumsi Kafein Terhadap Kesehatan
batas konsumsi kafein maksimum adalah 150 mg/hari dibagi minimal dalam 3 dosis. Kopi dapat mengandung 50-200 mg kafein per cangkir tergantung penyeduhan. Untuk teh dapat mengandung 40-100 mg kafein per cangkir. Jika individu mengonsumsi kopi dan minuman lain yang mengandung kafein pada hari yang sama, maka individu tersebut dapat mengonsumsi kafein melebihi dosis yang direkomendasikan sehingga dapat menimbulkan risiko terjadinya efek keracunan kafein yang bersifat akut.
Berdasarkan tingkat keparahan, keracunan kafein dibagi menjadi 3 tingkat. Pada tingkat ringan, keracunan kafein menimbulkan gejala mual dan selalu terjaga. Keracunan kafein tingkat sedang menyebabkan gelisah, tremor, agitasi, takikardia, hipertensi, dan muntah. Sedangkan keracunan kafein tingkat berat menyebabkan muntah (parah, berkepanjangan), hematemesis, hipotensi, jantung disritmia, hipertonisitas, myoklonus (otot berkedut), kejang, hiperglikemia, asidosis metabolik, dan alkalosis respiratorik.
Dosis letal kafein secara oral adalah 10 gram (150-200 mg/kg), meskipun dilaporkan terdapat individu yang mampu bertahan setelah menelan 24 g kafein. Pada anak-anak menelan 35 mg/kg kafein dapat menyebabkan keracunan tingkat sedang.
Berdasarkan jangka waktu konsumsi, konsumsi kafein sekali minum dalam jumlah melebihi takarannya dapat menimbulkan keracunan akut seperti rasa sangat gelisah, halusinasi, kejang, denyut jantung lebih cepat, tekanan darah tinggi, demam, tidak tenang, dan murung. Konsumsi kafein secara terus-menerus pada orang dewasa dapat menyebabkan keracunan kronis berupa kafeinsm dengan gejala gugup, cemas, gelisah, insomnia, tremor, palpitasi, dan hiperefleksia.
Banyak orang beranggapan bahwa mengonsumsi kafein setelah minum alkohol dapat mengurangi efek mengantuk/ mabuk dikarenakan efek stimulan dari minuman berenergi mampu mengurangi efek depresan dari alkohol. Namun hal itu tidaklah benar, konsumsi kafein bersamaan dengan alkohol justru dapat memperburuk kondisi. Kafein tidak mengurangi kadar alkohol dalam tubuh, sehingga apabila efek terjaga/waspada dari kafein hilang, efek mengantuk dari alkohol akan tetap ada .



permasalahan:
Kandungan kafein dalam kopi memiliki efek yang beragam pada setiap manusia.  Beberapa orang akan mengalami efeknya secara langsung, sedangkan orang lain tidak merasakannya sama sekali.  Hal ini terkait dengan sifat genetika yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein.  Metabolisme kafein terjadi dengan bantuan enzim sitokrom P450 1A2 (CYP1A2).Orang yang memiliki enzim CYP1A2-1 mampu mematabolisme kafein dengan cepat dan efisien sehingga efek dari kafein dapat dirasakan secara nyata. Enzim CYP1A2-2 memiliki laju metabolisme kafein yang lambat sehingga kebanyakan orang dengan tipe ini tidak merasakan efek kesehatan dari kafein dan bahkan cenderung menimbulkan efek yang negatif.

pertanyaan:
enzim yang terlibat dalam proses metabolisme tersebut sama, tetapi memberikan efek yang berbeda. mengapa demikian ??
selain itu mengapa enzim tersebut dapat menyebabkan efek negatif??
adakah upaya untuk  mencegah terjadinya efek negatif tersebut??

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kandungan kafein dalam kopi memiliki efek yang beragam pada setiap manusia. Beberapa orang akan mengalami efeknya secara langsung, sedangkan orang lain tidak merasakannya sama sekali. Hal ini terkait dengan sifat genetika yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein.[24] Metabolisme kafein terjadi dengan bantuan enzim sitokrom P450 1A2 (CYP1A2).] Terdapat 2 tipe enzim, yaitu CYP1A2-1 dan CYP1A2-2.[25] Orang yang memiliki enzim CYP1A2-1 mampu mematabolisme kafein dengan cepat dan efisien sehingga efek dari kafein dapat dirasakan secara nyata.Enzim CYP1A2-2 memiliki laju metabolisme kafein yang lambat sehingga kebanyakan orang dengan tipe ini tidak merasakan efek kesehatan dari kafein dan bahkan cenderung menimbulkan efek yang negatif.
    sebenarnya bukannya enzim yang menjadi penyebab negatif tetapi kafein la yang menjadi penyebab negatif
    upaya mencegah efek negatifnya menurut saya tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein dengan berlebihan terlebih konsumen tersebut memiliki tipe enzim CYP1A2-2 memiliki laju metabolisme kafein yang lambat

    BalasHapus
  3. saya akan mencoba menjawab,
    manusia memiliki respon yang beragam terhadap kafein yang dikonsumsi. Respon yang diberikan bisa secara langsung dirasakan ketika meminum kopi maupun respon yang lambat sehingga terkadang tidak dirasakan sama sekali bagi tubuh tergantung dari reaksi oksidasi di dalam tubuh setiap orang.

    Reaksi oksidasi dalam sistem hidup sangat penting. Khususnya, mekanisme transport gas oksigen oleh hemoglobin dan oksidasi mono-oksigen oleh senyawa besi-porfirin yang disebut P-450. Banyak obat,polutan , dan karsinogen kimia (xenobiotik) dimetabolisme oleh enzim-enzim, yang disebut dengan sitokrom P450.

    SIFAT-SIFAT SITOKROM P450 MANUSIA
    1. Terlibat dalam metabolism xenobiotik fase I(50% dari obat-obatan)
    2. Terlibat dalam metabolism senyawa endogen(steroid)
    3. Semua sitokrom p450 adalah hemoprotein
    4. Bekerja pada banyak senyawa
    5. Merupakan katalisator (mengkatalisasi 60 tipe reaksi
    6. Produk hidoksilasinya lebih larut dalam air daripada substratnya
    7. Pada beberapa keadaan produknya bersifat mutagenic/karsiogenik
    8. Mempy massa molekul sekitar 55 kDa
    9. Dapat diinduksi -->salah satu penyebab interaksi obat

    FUNGSI SITOKROM P450 SECARA NORMAL
    1. Hidroksilasi /penguraian obat di dalam tubuh
    Mengkatalisis reaksi hidroksilasi steroid ( mitokondria)
    Sistem ini ditemukan pada jaringan steroiddogenik ( korteks adrenal, testis, ovarium dan plasenta ) serta berhubungan dengan biosistesis hormone steroid dan kolesterol
    11 beta dan 18, sistemrenal mengkatalisis 1 alfa dan 24 hidroksilasi senyawa 25 hidroksikolekalsiferol

    2. Menghidroksilasikan zat-zat senobiotik/melindungi tubuh terhadap kerusakan akibat radikal bebas.

    APABILA PROTEIN SITOKROM P450 TIDAK BERFUNGSI BAIK AKAN TERJADI

    1. Gangguan interaksi obat di dalam tubuh
    2. Penurunan sistesis kortisolHiperplasi adrenal bawaan bentuk hipertensif ( beta 11 hidroksilase)
    3. Rakhitis ( 25 hidroksikolekalsiferol)
    4. Kekurangan pembentukan aldosteron, tetapi tidak ada gangguan sintesis kortisol dan hormone kelamin ( 18 )
    5. Radikal bebas superoksida dapat menyebabkan keracunan oksigen,
    6. Cidera sel
    7. Kanker

    jadi, menurut saya selain yang menyebabkan dampak negatif pada tubuh itu adalah mengkonsumsi kafein secara berlebihan diatas batas normalnya, pengaruh sitokrom P450 yang tidak berfungsi dengan baik juga dapat menyebabkan efek negatif , kenapa ? karena walaupun kafein yang dikonsumsi masih pada batas normal namun enzimnya tidak berfungsi dengan baik maka juga dapat menyebabkan dampak yang negatif.

    BalasHapus